Rabu, 26 Januari 2011

GANTUNGKAN CITA-CITAMU SETINGGI-TINGGINYA ...

Gantungkan cita-citamu setinggi langit, begitu ucapan banyak orang-orang pandai, atau orang-orang bijak. Aku mengerti ucapan itu, dan tidak cuma mengerti melainkan aku harus memegang itu dalam setiap langkahku.

Aku sadar, aku lahir di lingkungan keluarga yang bukan keluarga kaya. Ayahku seorang guru biasa. Ibuku bekerja di sebuah perusahaan swasta. Kami tidak mempunyai harta yang banyak, alhamdulillah kami punya rumah walau ada di sebuah desa yang terpencil jauh daru keramaian kota.

Kami belum punya mobil. Saat ini kami cuma punya motor, tapi kami tetap berbahagia walau kadang hujan membasahi kami ketika kami pergi ke suatu tempat. Kadang kami tertawa ketika mendapatkan tubuh dan pakaian kami basah kuyup bila kami lupa membawa jas hujan.

Kata Ayahku, kita harus selalu mensyukuri nikmat, karena kalau kita mensyukurinya, nicaya akan ditambah Tuhan nikmat itu. Itu yang selalu ayah katakan bila kami sedang berkumpul; dan pernah disampaikannya ketika kami selesai sholat.

Ayahku sangat mencintai ilmu pengetahuan, dan sering berkata carilah ilmu dan pengetahuan itu tak pernah henti. Ayahku selalu pula menunjukkan kepadaku bahwa ilmu dan pengetahuan dapat menjadi modal untuk hidup dan modal itu sedikit berbeda dengan harta, karena tak lekang oleh panas dan tak lapuk karena hujan.

Ibuku selalu mewanti-wantiku untuk selalu bersemangat menatap hidup ke depan. Dengan penuh kasih sayang ibuku selalu mengajariku untuk selalu menghargai waktu karena menurutnya, waktu tak dapat diputar kembali. Kita tidak dapat kembali ke masa lampau karena masa lampau itu sebuah kenangan, buruk maupun baik

(*** foto ini diabadikan di Pantai Ngliyep.)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar